PENDIDIKAN DISIPLIN YANG SESUAI BAGI PERGURUAN TINGGI MARITIM DI INDONESIA

Disiplin merupakan sikap mental untuk mematuhi aturan dan ketentuan yang berlaku, sekalipun ketentuan tersebut sifatnya remeh. Dengan disiplin akan terjadi keteraturan organisasi dalam pencapaian tujuan. Disiplin tidak dapat terbentuk begitu saja dalam kehidupan manusia. Proses pembentukan disiplin mulai dari melatih “kegiatan keharusan” yang apabila dilanggar diberikan sangsi berupa hukuman dan apabila dipatuhi akan mendapat penghargaan ( punishment and reward ). Kegiatan keharusan tersebut, dilaksanakan secara berulang – ulang menjadi “kebiasaan”, dan pada giliran akhir menjadi “nilai” yang dianggap baik dan dijunjung tinggi. Fenomena sosial yang terjadi di negeri ini adalah pengertian yang keliru tentang disiplin yang dianggap seperti “disiplin tentara”, diaplikasikan secara “kebablasan”, akhirnya menjadi kekerasan yang menakutkan disatu sisi, sedang disisi lain kebebasan yang tiada batas dan arogansi, juga menimbulkan kekerasan terselubung dan menakutkan.

Untuk memperoleh sikap disiplin diperoleh melalui proses belajar. Menurut kaidah pendidikan disiplin yang diajarkan di dunia pendidikan adalah disiplin yang sesuai dengan kondisi lingkungan tugas para lulusan kelak, sehingga kurikulum dan silabus pendidikan disiplin bagi tiap-tiap pendidikan seperti : pendidikan tentara, pendidikan akademik dan pendidikan profesional tentu tidaklah sama.

Orientasi kepada lapangan tugas

Seorang ilmuwan atau peneliti tugasnya berkaitan dengan mencari kebenaran ilmiah. Mereka harus taat kepada prosedur aturan ilmiah, prosedur penelitian yang sistimatis, mengedepankan obyektivitas dan kejujuran serta bersifat universal ( Paradigma Merton ). Dengan memegang disiplin keilmuan, penelitian akan mencapai hasil yang diharapkan, bukan penelitian yang hasilnya dikehendaki oleh ”sponsor” dan datanya dimanipulasi. Oleh karena itu pelatihan disiplin bagi ilmuwan adalah pelatihan ketaatan terhadap kaidah keilmuan, kejujuran dan obyektivitas. Bagi yang melaksanakan kaidah yang benar sesuai kaidah keilmuan hasil penelitiannya akan diterima dan diakui oleh komunitas ilmuwan, bahkan yang tertinggi sampai mendapat hadiah “Nobel”. Sedang bagi yang tidak taat seperti plagiat dan melaksanakan penyimpangan – penyimpangan, hasil penelitiannya tidak diakui dan mendapat sanksi moral dari komunitas keilmuan tersebut.

Seorang prajurit yang medan tugasnya adalah medan perang, dimana terjadi prinsip ‘ to kill or to be killed “ harus mendapat pelatihan disiplin yang keras disamping diusahakan mempunyai “naluri tempur” yang tinggi. Sanksi yang berat diberikan kepada seorang prajurit yang melanggar disiplin cukup keras dan sudah diatur dalam “Kitab Undang-Undang Disiplin Tentara / KUHDT”. Sedang prajurit yang baik dan patuh taat peraturan akan mendapatkan penghargaan dari komandannya bahkan apabila berjasa dalam lingkup nasional penghargaan datang dari Presiden. Bagi tentara, mematuhi perintah merupakan kebanggaan tersendiri, seluruh pikiran dan perbuatannya dikonsentrasikan untuk pencapaian tugas bahkan jiwa dan raganya rela dikorbankan demi kepentingan bangsa dan negara. Apabila perintah ada yang tidak sesuai dan bertentangan dengan “Sapta Marga” ada caranya tersendiri untuk tidak mengerjakan perintah tersebut. Mengingat pentingnya disiplin bagi prajurit, pelatihannya harus keras dan khas, namun saya belum pernah mendengar dalam latihan ada seorang prajurit yang meninggal dunia karena dianiaya atasannya bahkan prajurit yang menganiaya rakyat/orang lain harus berhadapan dengan pengadilan tentara.

Seorang pegawai negeri / pamong praja medan tugasnya adalah masyarakat yang kehidupannya diatur berdasarkan undang-undang serta peraturan dan ketentuan yang berlaku, disamping itu harus menjadi pengayom rakyat. Pelatihan disiplin bagi pendidikan pamong praja diarahkan untuk mentaati peraturan dan menjadi tauladan serta mengayomi masyarakat. Apabila seorang pamong praja patuh dan taat terhadap peraturan akan mendapat penghargaan, sedang apabila melanggar peraturan akan mendapat sanksi administrasi sampai yang terberat berupa sanksi hukuman pidana. Melihat medan tugas seorang pamong praja tersebut, maka pelatihan disiplin diarahkan untuk keteladanan, ketaatan dan pengayoman terhadap masyarakat termasuk yuniornya.

Seorang pelaut yang tugasnya di kapal dan berlayar di lautan serta berhadapan dengan teknologi yang canggih, maka pelatihannya diarahkan untuk mentaati prosedur di kapal, prosedur pengoperasian peralatan atau pesawat dan berbagai peraturan kapal yang berlaku. Bekerja di laut resikonya tinggi memerlukan “kesiagaan” yang tinggi, sehingga perlu pelatihan khas berupa latihan “pendadakan”. Seorang pelaut tidak berhadapan dengan musuh negara melainkan keselamatan pelayaran maka pelatihan disiplin bagi pelaut akan lain dengan pelatihan disiplin bagi seorang tentara.

Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam pertahanan pembelaan negara. Untuk itu seyogyanya setiap warga negara ikut dalam pelatihan bela negara yaitu pelatihan membentuk jiwa disiplin, patriotik dan berkesadaran bela negara. Akan menjadi lebih ideal lagi kalau setiap warga negara, terutama yang mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi, pernah melaksanakan pelatihan bela negara, yang diselenggarakan oleh Departemen Pertahanan sebagai pembina potensi Pertahanan Negara.

Pendidikan Disiplin

Bagi perguruan tinggi mengadopsi pendidikan disiplin seperti pendidikan tentara secara bulat-bulat adalah tidak bijak, bahkan hasilnya akan “kebablasan” dan menimbulkan kekerasan. Tidak melaksanakan pendidikan disiplin bagi mahasiswa juga tidak bijak, karena hasilnya adalah kebebasan tanpa batas dan arogansi. Banyak pengalaman di negeri ini, pelatihan disiplin disuatu Perguruan Tinggi Kedinasan / Profesi dengan mengadopsi pelatihan disiplin tentara, hasilnya justru kekerasan, karena mereka tidak mempunyai semacam “kode etik keprajuritan” seperti tentara, akibatnya banyak ruginya. Memberikan kebebasan tanpa pelatihan disiplin sebagaimana perguruan tinggi pada umumnya, kegiatan ”perpeloncoan” atau sebangsanya juga menimbulkan ekses negatif seperti “tindakan tidak manusiawi” yang akhirnya menjadi kekerasan terselubung. Oleh karena itu setiap perguruan tinggi memiliki model pelatihan disiplin sendiri-sendiri yang sesuai dengan medan tugas yang dihadapi para lulusannya kelak dan  yang paling penting adalah perencanaan, pelaksanaan dan pengawasannya serta tanggung jawab sepenuhnya berada pada Pimpinan Perguruan Tinggi yang bersangkutan. Kata kunci pelatihan disiplin adalah “ pengawasan oleh pimpinan dan pemilihan materi pelatihan yang sesuai.

Mencermati Perguruan Tinggi Maritim di Indonesia

Pendidikan Tinggi maritime (PTM) di Indonesia diselenggarakan Departemen (  Pemerintah ) dan ada yang diselenggarakan oleh Yayasan     ( swasta ). Pada awalnya PTM ingin mengajarkan disiplin bagi lulusannya dengan mengadopsi pendidikan tentara. Pada mulanya dilatih oleh personil tentara dimana PTM itu berada. Mereka dilatih disiplin seperti tentara. Apa hasilnya ? Hasilnya adalah disiplin yang kerasnya melebihi disiplin tentara    ( kebablasan ). Timbul arogansi di kalangan Taruna senior. Kekerasan dan arogansi ini dilandasi suatu pemikiran : “senior can do no wrong “. Senior boleh berbuat “ sak karepe dhewe “ dan merasa “  bener dhewe” bahkan sering mengancam dan memeras yunior. Pandangan masyarakat luar memberi istilah “semi militer” bahkan ada yang ekstrem menyebut “Tentara Karepe Dhewe ( TKD )”. Adopsi pendidikan disiplin tentara yang tidak sesuai tujuan pendidikan akan menimbulkan bias yaitu kekerasan.

Pada tahun 1998, tatkala Reformasi digulirkan banyak pimpinan PTM yang sadar, bahwa terjadinya bias dalam pendidikan disiplin di kalangan PTM, ada dua pendapat yaitu :

(1)   Bahwa kekerasan ini timbul karena latihan disiplin diadopsi dari latihan disiplin tentara. Penulis berpendapat yang keliru bukan disiplin tentaranya tetapi adopsi PTM yang kurang tepat dan pengawasan serta pengasuhan oleh pimpinan PTM yang tidak memadai.

(2)   Ada yang berpendapat bahwa bias ini karena pelatihannya tidak sesuai yang inginkan oleh pendidikan seperti kurikulum yang diambil dari kurikulum disiplin tentara yang tidak sesuai tugas lulusan PTM. Instruktur diambil dari personil tentara yang kurang tepat, umumnya diambil dari personil tentara dari satuan tempur dimana PTM itu berada. ( bukan guru militer yang professional ), pengawasan yang kurang memadai, bahkan Taruna / mahasiswa diikutkan pengasuhan tanpa kontrol.

Untuk merobah budaya kekerasan bukan hal yang mudah seperti membalikan telapak tangan dan selama ini belum ada “resep” yang tepat karena belum ada penelitian yang mendalam dari para praktisi maupun ilmuwan. Untuk sekadar memberikan gambaran upaya merubah budaya kekerasan di kalangan PTM, penulis mencoba masuk dan mengamati secara cermat sebuah PTS maritim di Semarang.

Mencermati Pendidikan Disiplin di Salah Satu PTM

Untuk mendalami langkah-langkah meniadakan kekerasan tersebut, penulis masuk dan mengamati sebuah PTS maritim di Semarang. PTS maritim  tersebut merupakan satu-satunya PTS maritim yang program studinya sejak tahun 2002 sudah terakreditasi oleh BAN PT dan telah mendapat “pengakuan” dari Administration yaitu badan yang ditunjuk oleh pemerintah RI untuk menangani implementasi standar pelaut internasional     ( STCW 1995 ) sejak 29 Februari 2000. Mahasiswanya atau disebut Taruna tinggal di “mess” yang disiapkan oleh lembaga di tengah – tengah pemukiman penduduk dengan menyewa rumah penduduk, jadi Tarunanya membaur dengan masyarakat sekeliling. Aparat pemerintah setempat mulai Camat sampai RT ikut mengawasi dan membimbing Taruna dalam bermasyarakat.

Kondisi tujuh tahun yang lalu cukup mengenaskan, budaya kekerasan dengan dalih disiplin terjadi sangat hebat. Sering terjadi perkelahian antara Taruna dengan Taruna maritim lainnya bahkan dengan kelompok “gali” pun sering terjadi perkelahian. Situasi kampus tidak kondusif bagi Taruna yunior, hal ini dapat dilihat pada hasil studi (KHS ) para Taruna semester I umumnya IP-nya rendah sekali.

Pada tahun 1997 sebelum reformasi bergulir lembaga tersebut mulai sadar membuat evaluasi diri yang kesimpulannya : perlu adanya perubahan budaya kekerasan secara perlahan tetapi pasti yaitu merubah paradigma lama menjadi paradigma baru yang mengedepankan asah, asih, asuh dan hasilnya setelah kurang lebih tujuh tahun bergulat dengan perubahan dan tantangan yang berat terdapat kemajuan yang berarti. Indikator perubahan dapat diamati pada hal sebagai berikut  :

(1)         Para Taruna berjanji tidak akan ada kekerasan lagi di kampus sejak waktu itu dan menyatakan perang terhadap kekerasan, narkoba dan tindakan asusila.

(2)         Selama tahun-tahun terakhir tidak pernah lagi terjadi perkelahian antara Taruna dan masyarakat.

(3)         Tindak kekerasan terhadap yunior intensitasnya menuju “ZERO”

(4)         Suasana belajar internal menjadi kondusif ditandai dengan naiknya prosentasi kelulusan dari 30 % menjadi 80 %.

(5)         Membaurnya Taruna dengan masyarakat sekitar kampus

Strategi yang diambil untuk menghilangkan budaya kekerasan  adalah  :

(1)          Merobah paradigma lama yaitu “senior can do no wrong “ menjadi paradigma baru “ asah, asih, asuh “. Senior menjadi panutan dan pengayom dan yunior patuh dan hormat kepada senior.

(2)          Menyempurnakan langkah-langkah pendidikan disiplin.

Langkah Pendidikan Disiplin.

Menanamkan disiplin yang sesuai kepada Taruna sebagai bekal untuk bertugas di laut / pelabuhan, dengan langkah-langkah sebagai berikut : (1) menentukan “tindakan keharusan” bagi Taruna  serta sanksi dan penghargaannya (2) membiasakan mematuhi aturan yang berlaku (3) melatih kebiasaan yang baik menjadi kebutuhan (4) menjadikan disiplin sebagai suatu nilai – nilai yang dijunjung tinggi dan dianggap baik.

Berdasarkan langkah penanaman disiplin diatas, latihan disiplin, di lembaga tersebut ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut  :

(1)         Setelah lulus seleksi kesehatan, akademik dan tes psikologi, dan tes fisik diterima menjadi calon Taruna.

(2)         Latihan yang pertama dilaksanakan adalah latihan bela negara di Depo Pendidikan Bela Negara bagi warga masyarakat yaitu di Dodik Belanegara Rindam IV / Diponegoro. Materi pelatihan adalah latihan dasar Menwa bertujuan menanamkan disiplin warga negara, sikap patriotik dan berkesadaran bela negara.

(3)         Selesai latihan belanegara diterima di kampus setelah melalui upacara tradisional “mandi laut”1) dilanjutkan orientasi studi pengenalan kampus OSPEK dengan materi ceramah dan dialog dengan pimpinan lembaga dan pejabat terkait, membahas tentang pengenalan kampus, penegakan hukum, narkoba, pengenalan HAM, demokratisasi dan pengenalan budaya daerah. Disamping itu Taruna senior diberikan waktu untuk berdialog dengan calon Taruna serta latihan baris berbaris dilaksanakan untuk menanamkan sikap disiplin, kerjasama, kebersamaan dan melatih kepemimpinan.

(4)         Pemilihan anggota staf Taruna dan Lemustar secara demokratis melalui tes kepribadian dan pemilihan oleh anggota Taruna serta melaksanakan latihan kepemimpinan manajemen mahasiswa           ( LKMM )

(5)         Melaksanakan pembinaan disiplin secara berlanjut dengan pengawasan oleh instruktur/pengasuh Taruna yang meliputi :

  1. Penggunaan baju seragam khusus Taruna pada berbagai kegiatan dengan menyesuaikan kegiatan bermasyarakat.
  2. Apel akademi tiap hari Senin dipimpin oleh Pimpinan Akademi.
  3. Kegiatan latihan fisik berupa olah raga renang, atletik dan olah raga umum dengan moto “dalam jasmani yang sehat terletak jiwa yang sehat pula “
  4. Pengorganisasian Taruna dalam wadah Resimen Taruna, Lemustar dan Unit Kegiatan Taruna ( UKT )
  5. Ujung tombak pengawasan adalah instruktur dosen dan pengasuh Taruna serta Resimen Taruna ( Taruna senior yang ditunjuk )

1) Upacara mandi laut, adalah upacara tradisional setelah calon Taruna selesai latihan bela negara melaksanakan mandi laut. Tradisi ini dipetik dari tradisi Eropa bagi pelaut muda yang melintasi katulistiwa.

(6)         Memberikan kuliah kepemimpinan, ketrampilan komunikasi dan etika pergaulan 2) bagi seluruh Taruna.

(7)         Membudayakan membaca dan belajar minimal empat jam dalam sehari sehingga tidak ada waktu menganggur.

(8)         Mempertahankan tradisi yang baik seperti Parade Surya Senja berupa upacara penurunan bendera setiap berakhirnya kegiatan Ospek merupakan upaya menanamkan jiwa korsa.

(9)         Menggiatkan kegiatan keagamaan berupa kebiasaan “tahlil” bagi yang beragama Islam dan kebaktian bagi yang beragama Nasrani serta Hindu dan Budha dalam rangka menuju insan yang bertaqwa.

(10)      “Menguri – uri” budaya Indonesia melalui kegiatan musik, menyanyi, tari, drum corp, rebana, band dll.

Kesimpulan

Berbagai kesimpulan yang didapat dari tulisan ini adalah  :

(1)         Disiplin pada hakekatnya adalah ketaatan terhadap peraturan atau ketentuan yang berlaku. Sikap disiplin diperoleh melalui proses belajar berupa kegiatan keharusan, kebiasaan berkembang menjadi kebutuhan dan menjadi nilai yang dijunjung tinggi.

(2)         Materi dan metode pelatihan disiplin disesuaikan dengan medan tugas yang akan dihadapi para lulusan kelak, terserah perguruan tinggi masing-masing.

(3)         Adopsi latihan militer secara bulat-bulat tanpa kajian yang mendalam akan menimbulkan disiplin yang “kebablasan” berakibat kekerasan.

(4)         Membiarkan anak didik tidak dilatih disiplin secara baik dapat mengakibatkan kebebasan yang tiada batas dan berujung dengan kekerasan pula.

2) Etika merupakan filsafah perilaku yang berkaitan dengan moral dan kebenaran. Moral berkaitan dengan nilai (baik dan buruk) sedang kebenaran sesuai konteknya (kebenaran ilmiah, politik, agama, masyarakat dan budaya)

(5)         Merobah budaya kekerasan karena kesalahan masa lalu tidak bisa sekaligus seperti membalikan telapak tangan, melainkan  harus secara sistematis, terarah walaupun lambat tetapi pasti                 ( gradual ). Semuanya ini terpulang kepada Pimpinan Perguruan Tinggi masing-masing.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s